Jumat, 22 Juni 2018

Opps! Noted : to myself


Opps! Noted : to myself


Hallo temen-temen semua..
Welcome back to my YouTube Channel...

Sebenernya udah lama banget saya ingin menulis kembali di sini, satu topik yang saya angkat pada kesempatan kali ini adalah “unconfident terhadap diri sendiri”. Langsung aja ya saya mulai dari kegelisahan yang saya alami.


Opps! Noted : to myself

Foto itu saya ambil ketika saya memasuki semester lima kuliah dan ketika sedang banyak jerawat yang timbul di wajah. Kala itu saya sedang melakukan Praktik Kerja Lapangan (PKL) dan saya sedang dimabuk asmara, ya kalian benar, I have a boyfriend dan saya menyayangi dia. Biarkan saya bertanya sejenak,

apa yang kalian lakukan jika kalian menyayangi seseorang?

dari sekian jawaban yang muncul pasti ada jawaban “saya akan menjaga dia dan tidak ingin kehilangan dia."

is that true?

Jika memang ada jawaban itu, iya itu yang saya rasakan pada saat itu. Saya tidak ingin kehilangan dia orang yang saya percaya untuk menjaga dengan penuh hati saya agar tetap utuh. I love him so much. Hu-Hu…

Haduh jadi curhat -_- Oke, lanjut ke foto yang tadi ya..

Seperti yang sudah saya katakan pada awal tulisan ini, topik kali ini adalah  unconfident terhadap diri sendiri”. Lalu apa hubungannya dengan sepenggal curhatan saya terhadap “dia” ? berikut adalah jawabannya :

Januari – februari 2018 saya isi liburan kuliah saya dengan melakukan PKL di daerah Kebayoran Lama, pada suatu hari saat saya sedang menuju arah pulang ke rumah bersama dengan rekan saya yang searah. Selagi saya berada di atas kendaraan, saya melihat sekitar lingkungan tempat saya melakukan PKL. Tempat PKL saya tidak jauh dari salah satu kampus elit di daerah Jakarta Selatan.  Saya melihat dan memperhatiakn sekeliling, namun yang menjadi fokus saya pada kala itu adalah “perempuan yang berparas lebih cantik”. Entah mengapa saya bisa berfokus kesana, yang ada di pikiran saya saat itu hanya satu “saya ingin cantik seperti mereka”.
Saya tidak mengerti. Amat sangat tidak mengerti. Setelah saya melihat perempuan-perempuan cantik itu saya termenung, diam saja selama di perjalanan. Saya berpikir how bad am I, betapa ugly-nya rupa saya. Mood saya langsung turun drastis, untuk “kamu” iya “kamu” mungkin kamu ingat percapakan “kita” tentang ketidakpercayadirian saya terhadap paras yang saya miliki sehingga kamu memarahi saya, dan kamu bilang ke saya

kalo kamu kaya gini terus aku bakal marah banget sama kamu”

Saya merasa sangat bodoh sedari tempat PKL saya hingga daerah Pondok Indah saya hanya terdiam dan termenung meratapi keadaan paras yang saya miliki.

Kala itu saya berpikir, saya takut dengan rupa yang demikian (banyak jerawat, kusam) laki-laki yang saya sayangi akan berpaling dari saya. Terlebih di luar sana ada banyak perempuan yang lebih menawan. Saya yang terlalu banyak kekurangan seperti ini hanya bisa menyimpan rasa takut. Takut kehilangan. Takut “dia” kecewa dengan saya yang tidak bisa secantik perempuan yang lain.

Saya diam.
Menangis di jalan, mengumpat di balik kaca helm yang saya kenakan.
Betapa lemahnya Hamba­-Mu ini Tuhan

Saya sebenarnya sudah sedikit berbagi cerita dengan salah satu teman saya, dan kalian tau apa respon dia?

SAYA DIANGGAP TIDAK MENSYUKURI NIKMAT ALLAH

Iya memang pada masa itu saya seperti putus asa, merasa seperti menjadi orang yang paling hina. Tapi sekarang saya bangkit, saya tidak boleh larut dalam kegelisahan yang saya alami. Saya kuat hingga sekarang karena saya percaya masih ada di luar sana yang sayang dan mereka masih membutuhkan kehadiran saya dihidupnya. Saya kuat karena kasih sayang, ketulusan cinta dan kepedulian  yang saya dapat dari “dia” serta teman-teman terbaik saya.

Saya beruntung memiliki mereka.
Saya merasa aman bersama mereka, saya merasa saya menjadi seseorang yang paling bahagia jika tertawa bersama mereka.
Akan ada jiwa yang hilang bila saya tidak bersama mereka.

He-He-He

- - - - - - - - - - - - - - -

            Dengan pengalaman yang demikian lah saya memberi catatan terhadap diri saya,
“Seperti sudah banyak orang yang mengatakan jika kita ingin bahagia maka berhetilah membandingkan diri sendiri dengan orang lain, hal yang demikian akan saya coba untuk selalu saya terapkan di hidup saya karena sejatinya bahagia itu tidak bisa kita cari-cari melainkan kita sendiri yang harus membuatnya. Selain itu saya juga harus menerapkan pada pola pikir saya untuk tidak pernah lagi menjadikan kekurangan yang ada di diri saya sebagai penghalang saya untuk bergaul, karena saya percaya suatu saat nanti pasti saya akan dipertemukan dengan orang-orang yang memang mau menerima saya dengan segala kekurangan yang ada, mereka mau menerima dengan ikhlas dan tulus.”

4 komentar: