Jumat, 22 Juni 2018

Aku Kamu bukan Kita


Aku Kamu bukan Kita

Tulisan kali ini aku dedikasikan untuk seorang laki-laki bertubuh subur, yang sangat nyaman untuk dipeluk. I say thank you so much, terima kasih telah menyempatkan waktumu untuk menyayangi dan mencintaiku.

- - - - - - - - - - - - - -

                Aku dan kamu tanpa sengaja berteman…

               Masih aku ingat, sempat aku menerima sebuah notifikasi permintaan berteman dari salah satu aplikasi chat yang cukup terkenal. Ternyata notifikasi tersebut dari dirimu. Iya, dirimu, yang sentuhan jari jemarinya selalu aku rindukan untuk menghangatkan telapak tanganku yang sedang kedinginan.

          Perkenalan aku dan kamu dimulai sejak aku menerima permintaan bertemanmu. Kamu memberanikan diri untuk menyapaku terlebih dahulu. – ya mungkin ini menurutmu adalah sebuah keisengan atau bagaimana, aku tidak tau biar kamu saja yang tau, aku cukup menjawab sapaanmu saja. –  Saat itu aku sedang sibuk dengan tugas-tugasku, hingga muncul sebuah percakapan :

                “niatnya hari ini mau ngerjain tugas wkwk”

                “yaudah kerjain dulu lah biar tenang”

                “oke bos q”

                “nanti kalo udah selesei kabarin ya”

                “belum mulai gua”

                “mulai lah”

                “5 menit lg deh *emot ketawa*”

                “udah 10 menit nih”

                Kamu tau? Kamu tau perasaan aku? Aku sangat senang mengetahui kamu menunggu aku, kamu ikut menghitung waktu. Saat kamu bilang “udah 10 menit”, aku tersenyum, tersipu, semudah itu aku hanyut dalam perhatianmu.

            Di waktu yang berbeda pada lain kesempatan, kamu mengajakku untuk berbincang via telepon. Aku bilang aku malas. Namun entah kenapa, untuk yang kedua kalinya kamu mengajakku berbincang aku menjawab ajakanmu dengan satu kata

“boleh”

Akhirnya kamu meneleponku, aku dan kamu menghabiskan waktu setidaknya 30 puluh menit kurang 4 detik.

Aku Kamu bukan Kita

I hear your voice..  Aku bisa langsung mengenali suaramu…

Obrolan masih terus belanjut melalui pesan-pesan teks yang kamu kirimkan untukku.

Hingga suatu ketika, kamu menghilang dari ruang obrolan yang telah kita susun sedemikian rupa. Kamu mengacuhkan pesan yang aku kirimkan. Aku berpikir aku telah berbuat salah.

Baik.
Aku minta maaf jika salah.

Namun….

Entah kebetulan atau bagaimana, di sebuah tempat yang aku rindukan, aku melihat sosok yang mirip dirimu, iya memang aku hanya baru melihat dirimu lewat foto profil yang kamu gunakan, satu yang membuat aku yakin itu dirimu adalah “suaramu”.

Aku kembali mendengar suara itu, suara yang aku dengar melalui telepon. Ingin sekali menyapa, tapi aku takut. Takut kamu tidak mengenali aku. Takut kamu terkejut dengan bentuk nyataku. Andai kamu tau, aku sungguh seperti cacing kepanasan saat itu, aku masih tidak menyangka bisa melihatmu secara langsung, aku memperhatikanmu dari kejauhan. Jika kamu hilang dari pandanganku, aku segera mencari kemana perginya langkahmu sore itu.

Tidak lama, dengan menyingkirkan rasa gengsi dan mengedepankan rasa agresifku, aku menyapamu, lewat pesan teks. HA-HA.  Aku bilang, aku melihat kamu sore itu. Dengan respon yang cukup lama, akhirnya kamu membalas pesanku, sehingga aku dengan dirimu kembali saling berbalas pesan. 
- - - - - - - - - - - - - -
Singkat cerita butuh kurang lebih tiga minggu atau mungkin hampir satu bulan untuk kamu dan aku resmi menjadi sepasang kekasih. Masih aku ingat bagaimana caramu meyakinkanku untuk menerima cintamu. Aku yang takut kamu tidak bisa menerima keadaanku.

“kamu belum tau aku, nanti kalo zonk gimana?”

“emang ada ya manusia yang bertopeng manusia?”

Sayang, kamu harus tau! Aku jatuh hati oleh kalimat itu.  Iya aku jatuh hati oleh dia yang sudah aku pernah lihat secara langsung, namun dia belum pernah melihatku. Aneh memang.

Hingga akhirnya aku dan kamu berjumpa setelah resmi mempunyai hubungan.

Kalian heran?

Sama, saya juga…

Satu bulan hampir aku dan kamu lalui dengan mulus, manis, tanpa ada masalah yang berarti. Rangkulan dan pelukan yang hangat hampir aku dapati ketika aku dan kamu bersama.

Hari itu hari ulang tahunku, untuk pertama kalinya aku mempunyai kekasih hati di hari jadiku. Kamu merupakan salah satu kado yang dititipkan untukku oleh Tuhan. Untuk pertama kalinya pula aku mengajak seorang laki-laki kehadapan teman-temanku di hari itu.

Dua bulan berjalan mulus…
Tiga bulan berjalan cukup mulus…

Empat bulan?
Di mana menurut orang-orang merupakan bulan-bulan yang menentukan, jika memang sepasang kekasih bisa bertahan lebih dari empat bulan itu bertanda mereka memang saling mencinta.

Pada bulan keempat,
Kerenggangan itu terjadi antara aku dan kamu. Kamu menghilang begitu cepat, memang belum menghilang sepenuhnya, tapi perlahan perhatianmu, kasih sayangmu yang aku rasa sudah mulai pudar.
Pertemuan aku dan kamu semakin singkat, aku baru paham arti waktu saat bersamamu. Satu menit bersamamu pun terasa langka. Iya rumah aku dan kamu memang jauh, tapi coba kamu ingat apakah jarak kampus A ke kampus B memakan waktu satu jam lebih? Jika tidak ada kepentingan aku yakin, kamu tidak akan mau menemuiku pada masa itu. Konflik terus terjadi. Entah saat kamu yang dengan tiba-tiba lupa akan janji untuk keluar bersama dan malah pergi bersama teman-temanmu, entah pesan aku yang tak kunjung dibalas. Runyam pada saat itu. Sedih.

“aku bosan”

Salah satu pesan yang membuat aku terdiam, bingung.

Aku tidak mau kalah oleh rasa bosan. Rasa sayang yang ada dalam diriku harus menang. Hanya orang-orang lemah yang tidak bisa melawan kebosanan dalam suatu hubungan. Aku mencoba bertahan. Kamu berulangkali meminta maaf atas sikapmu. Aku selalu mencoba memaafkan. Karena jika tidak demikian hubungan yang telah sama-sama terbangun ini akan pupus begitu saja.
- - - - - - - - - - - - - -

Tibalah pada bulan kelima.

Apa kalian bakal berpikir semua ini akan lebih indah dari bulan keempat?

Kalian salah -_-

Justru kekacauan itu lebih rumit.

Aku mengaku kalah.
Aku mengaku aku bukan orang yang penyabar.

Tidak lama dari hari jadi yang sempat aku ucapkan melalui sebuah gambar, aku meminta untuk mengakhiri semuanya. Semua yang ada antara aku dan kamu.  Aku masih berharap kamu untuk menahan. Aku masih berharap kamu untuk berjuang. Amat sangat berharap. Namun kamu berkata, kamu takut membuat sakit yang berlebih jika harus memaksakan untuk tetap bersama. Akhirnya, aku benar-benar membulatkan keputusanku untuk menyudahi yang sudah kamu mulai.
- - - - - - - - - - - - - -
                Tenang sayang, kamu pemenangnya kok dalam hubungan ini. Aku yang kalah.

                Jika harus menceritakan segalanya yang ada antara aku dan kamu, terlalu banyak.

               Biar hanya aku dan kamu yang tau bagaimana rasanya menempuh jarak dan menunggu selama 1 jam 20 menit hanya untuk surabi, menerobos sepinya Depok yang ditemani dengan angin malam, dan masih banyak lagi. Biar itu menjadi kenangan.

                Terima kasih aku telah diberi kesempatan untuk menjadi milikmu meski hanya sementara.
                Terima kasih telah mengajarkan aku arti menerima apa adanya.

             Pertemanan ini tidak akan pernah berubah jika memang tidak ada satupun dari aku dan kamu yang ingin merubahnya untuk saling membenci. Hanya saja satu yang harus aku tekankan pada diriku "aku dan kamu" yang sudah tidak lagi menjadi "kita". Sehingga aku bisa berhenti berharap. Berbahagialah meskipun bahagia itu bukan aku yang membuatnya!

                Once more, Terima kasih, je!

20 komentar:

  1. Tapi selama jalan sama doi pernah deket gak sama cowo lain? Atau emg bener" klop kedia?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, sama dia doang non☺ dia berhasil membuat saya setia non sampe sekarang😂

      Hapus
    2. Huah. Mantaap��
      Sekarang masih temenan baik dgn dia? Kenapa ya aku tiap putus pasti gak komunikasi lg sama mantan" :'(

      Hapus
    3. InsyaAllah masih non, dia jg mantan pertama aku non yg bisa aku jadiin temen. Biasanya tidak non. Mungkin memang karena kita putus jg baik2 kali ya, makanya bisa temenan dgn baik jg skg. Hehehe

      Hapus
    4. Sekarang udah muvon? Hehe...

      Hapus
    5. Biar saya dan hati saya saja yang tau ya non😂❤

      Hapus
    6. Tapi pernah gak suka/ pcrn sama yg emg sahabat/temen? Klo dia inikan emg awalnya gkenal ya, kenalnya krn dia yg add. Tpi klo sama org udh kenal lama pernah gak?

      Hapus
    7. Pernah donggg hahahaha😂

      Hapus
  2. Keren tulisannya kata2 fit dalem bener ��

    BalasHapus
  3. Wahhh... katakatanya dapet dari mana, ngga nyangkaaa yaaa ����

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe dari skripsi org joh😂😂😂 wkwk

      Hapus
  4. Kalo seandainya kak,mantan kk minta balikan sm kaka?tapi bukan yg itu. Istirahat dulu ato mau?

    BalasHapus